Banyak orang bisa 'berkata', namun sedikit yang mau
'mendengar'.
Padahal jika kita mau kembali ke hukum alam, seharusnya kita
harus lebih banyak mendengar daripada bicara. Bukankah Tuhan memberi kita dua telinga
dan hanya satu mulut ?
Begitupun jika kita saksikan pada bayi yang baru lahir.
Indra pendengaran lebih dulu berfungsi daripada yang lainnya. Lalu, mengapa
mendengar lebih susah daripada berbicara?
Meski secara kasat mata mendengar adalah hal yang gampang,
namun nyatanya banyak orang yang lebih suka didengarkan daripada mendengarkan.
Mendengarkan merupakan bagian esensi yang menentukan
komunikasi efektif.
Tanpa kemampuan mendengar yang bagus, biasanya akan muncul
banyak masalah.
Yang sering terjadi, kita merasa bahwa kitalah yang paling
benar. Kita tidak tertarik untuk mendengarkan opini yang berbeda dan hanya
tergantung pada cara kita.
Selalu merasa benar, paling kompeten, dan tidak pernah melakukan
kesalahan.
Duh... malaikat kali!
Jika kita selalu merasa bahwa diri kita benar, dan cara
kitalah yang paling tepat, itu berarti kita tidak pernah mendengarkan.
Ide dan opini kita sangat sukar untuk diubah jika fakta
tidak mendukung keyakinan kita. Bahkan kalau ada fakta pun kita mungkin hanya
akan sekedar meliriknya saja.
Mungkin saat ini kita nyaman dengan cara kita, tapi untuk
jangka waktu yang panjang, orang-orang akan menolak dan membenci kita.
Jika kita mau mulai mendengarkan orang lain, maka suatu saat
kita akan menyadari kesalahan kita. Jawaban untuk mengatasi sifat ini adalah mengasah
skill mendengar aktif.
Mendengar tidak selalu dengan tutup mulut, tapi juga
melibatkan partisipasi aktif kita. Mendengar yang baik bukan berharap datangnya
giliran berbicara.
Mendengar adalah komitmen untuk memahami pembicaraan dan
perasaan lawan bicara kita. Ini juga sebagai bentuk penghargaan bahwa apa yang
orang lain bicarakan adalah bermanfaat untuk kita. Pada saat yang sama kita
juga bisa mengambil manfaat yang maksimal dari pembicaraan tersebut.
Seni mendengar dapat membangun sebuah relationship. Jika
kita melakukannya dengan baik, orang-orang akan tertarik dengan kita dan
interaksi kita akan semakin harmonis.
Berikut teknik mudah yang dapat dipraktekkan oleh teman-teman
dengan sangat wajar untuk menjadi seorang pendengar yang baik :
1. Peliharalah kontak mata
dengan baik. Ini menunjukkan kepada lawan bicara tentang keterbukaan dan
kesungguhan kita
2. Condongkan tubuh ke depan. Ini
menunjukkan ketertarikan kita pada topik pembicaraan. Cara ini juga akan
mengingatkan kita untuk memiliki sudat pandang yang lain, yaitu tidak hanya
fokus pada diri kita.
3. Buat pertanyaan ketika ada
hal yang butuh klarifikasi atau ada informasi baru yang perlu kita selidiki
dari lawan bicara kita.
4. Buat selingan pembicaraan
yang menarik. Hal ini bisa membuat percakapan lebih hidup dan tidak monoton.
5. Cuplik atau ulang beberapa
kata yang diucapkan oleh lawan bicara kita.Ini menunjukkan bahwa kita memang mendengarkan
dengan baik hingga hafal beberapa cuplikan kata.
6. Buatlah komitmen untuk
memahami apa yang ia katakan, meskipun kita tidak suka atau marah. Dari sini
kita akan mengetahui nilai-nilai yang diterapkan lawan bicara kita, yang
mungkin berbeda dengan nilai yang kita terapkan.
Dengan berusaha untuk memahami, bisa jadi kita akan
menemukan sudut pandang, wawasan, persepsi atau kesadaran baru, yang tidak
terpikirkan oleh kita sebelumnya.
Seorang pendengar yang baik sebenarnya hampir sama
menariknya dengan pembicara yang baik. Jika kita selalu pada pola yang benar
untuk jangka waktu tertentu, maka suatu saat kita akan merasakan manfaatnya.
Prosesnya mungkin akan terasa lama dan menjemukan, tapi
lama-kelamaan akan terasa berharganya upaya yang telah kita lakukan. Kita akan
merasa lebih baik atas diri kita, hubungan kita,
teman-teman kita, anak-anak kita, maupun pekerjaan.
Kesimpulan: Jadilah pendengar yang baik, karena sifat ini
bisa menjadi kunci untuk mengembangkan pikiran yang positif, dan merupakan
salah satu tangga teman-teman untuk mencapai kesuksesan!
dari : Anne Ahira

Tidak ada komentar:
Posting Komentar